<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> 
  <rss version="2.0"><channel> 
				<title>RSS RESENSI -REVIEW FOR ALL!</title> 
				<description>Resensi terpercaya tentang film, serial, buku dan beragam sektor kreatif lainnya</description>
				<link>https://resensi.my.id/</link> 
				<language>id-id</language><item>
						                <title>Untung Ada Barry Prima </title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/untung-ada-barry-prima-</link>
						                <description>Tahun 1978. Untuk pertama kalinya publik Indonesia berkenalan dengan Barry Prima di film berjudul Primitif. Tak sekedar bertampang bule dan ganteng, Barry juga dikaruniai keterampilan beladiri.

Barry lantas dikenal sebagai salah satu bintang film dengan keterampilan beladiri mengagumkan. Kita melihat aksinya dalam puluhan film sejak tahun 1978 – 1999. Pasca film Indonesia mati suri dan kembali bangkit di awal tahun 2000-an, Barry juga muncul dalam sejumlah penampilan nan mengesankan. Salah satunya sebagai supir taksi di debut penyutradaraan Joko Anwar, Janji Joni [2005]. 

Tapi kita baru melihat kembali Barry beraksi dalam film horor-thriller berjudul Badut Gendong arahan Charles Gozali. Charles sudah diakui keterampilannya memainkan adegan-adegan aksi yang tak sekedar pamer kelenturan namun juga secara visual bisa memanjakan mata. Paling tidak hal tersebut sudah diperlihatkannya dalam film horor Islami, Qodrat, yang sukses besar di tahun 2022. Badut Gendong diniatkan lahir sebagai semacam spin-off bagi semesta Qodrat. Namun apakah Badut Gendong bisa semenarik Qodrat yang menurut saya masih jadi film horor Islami paling menarik dalam 5 tahun terakhir?

Qodrat sukses secara artistik terutama karena skenario dirakit secara meyakinkan oleh trio penulis Gea Rexy, Aasaf Antariksa dan Charles sendiri. Sedari awal kita tahu siapa karakter utama di cerita ini, apa yang diinginkannya, apa saja hambatan demi hambatan yang harus dilaluinya demi mendapatkan keinginannya. Namun berbeda dengan Badut Gendong yang justru seperti kebingungan mengarahkan ceritanya untuk berpihak ke siapa. Betul memang, cerita berpusat pada Darso yang melakukan balas dendam sepanjang film ke orang-orang yang dianggap menginjak-injak harga dirinya sebagai manusia. Namun cerita juga memberi ruang besar pada karakter Ki Kamboja [yang diperankan Barry] yang juga punya motivasi setali tiga uang dengan Darso. Seperti belum cukup, sub-plot warga desa yang memprotes sebuah perusahaan yang dianggap mengeksploitasi mereka juga terasa tak pernah cukup kuat untuk menopang plot utama. Jika di Qodrat semuanya terfokus pada aksi ustadz Qodrat, di Badut Gendong semuanya serba melantur ke mana-mana. Dan hingga film berakhir pun kita tak bisa diyakinkan dengan motivasi Darso membunuh banyak orang.

Badut Gendong dibuka dengan menarik. Pasangan suami istri pengamen, Darso dan Darsi, baru saja mengamen di sebuah stasiun kereta. Selepas beroleh sejumlah uang dari pengunjung yang mengapresiasi penampilan mereka, Darsi mendadak mual. Dan tahu lah kita bahwa Darso sebentar lagi akan menjadi bapak. Namun kebahagiaan mereka berumur pendek. Mereka segera saja bertemu tiga orang preman yang ingin merampas sedikit uang yang baru saja mereka peroleh dengan susah payah. 

Darso tak tinggal diam, ia mencoba melawan dengan segala upaya. Tapi mana bisa ia melawan tiga orang yang mungkin sepanjang hidupnya sudah terbiasa merampas sesuatu yang bukan haknya. Dan taruhannya adalah nyawa istrinya. Darsi mati seketika saat kepalanya terhempas ke rel kereta. Darso pun merasa nyawanya ikut melayang seketika. Dan dari sinilah teror badut gendong dimulai. 

Masalahnya Darso tak menuntut balas ke tiga orang preman itu. Ia malah membunuh-bunuhi sembarang orang, bahkan kadang yang tanpa punya dosa terhadapnya sekalipun. Jadinya kita pun rasanya susah bersimpati pada karakter seperti ini. Akibatnya jelas, kita tak peduli apa yang Darso lakukan sepanjang film, kita malah peduli pada korban tak berdosa yang dibunuhnya.

Dan karena motivasi Darso tak semeyakinkan yang kita bayangkan, dengan mudah kita menggeser fokus melihat karakter lainnya. Dan kali ini saya melihat Ki Kamboja. Dengan adegan pertama yang memunculkannya di layar dengan suara menggelegar dengan karisma yang tak tertandingi, susah bagi saya untuk tak tertarik pada karakter Ki Kamboja. Sayangnya memang screen time Ki Kamboja dengan penampilan sekuat itu justru hanya sedikit. Saya memahami kemarahannya, saya memahami kesakitannya, saya memahami bagaimana ia berusaha bertahan hidup untuk memberi pelajaran bagi mereka yang menginjak-injak harga diri dan martabat warga desa.

Jujur saja saya bertahan menyaksikan Badut Gendong yang terasa semakin lama semakin membosankan hanya karena Barry Prima. Saya menunggu apa yang kiranya akan dilakukannya, apa yang kiranya akan terjadi padanya. Dalam sebuah adegan mendebarkan, saya bisa bernapas lega bagaimana Badut Gendong bisa membayarkan rentetan kesalahan yang dilakukannya di awal dengan sebuah adegan yang “menyatukan” Darso dan Ki Kamboja. 

Sampai hari ini saya masih penasaran. Mengapa aktor selevel Barry Prima tak banyak digunakan jasanya di film Indonesia hari-hari ini? Tapi paling tidak penampilannya di Badut Gendong memuaskan kita yang menunggu kapan sang aktor kembali bisa bertarung dalam sebuah film yang bisa menempatkan dirinya dengan tepat. Untung Charles memilih Barry di film ini. Untung ada Barry Prima!


BADUT GENDONG

Produser: Linda Gozali
Sutradara: Charles Gozali
Penulis Skenario: Asaf Antariksa, Charles Gozali, Dharma Putra PN
Pemain: Marthino Lio, Clara B
</description>
					                </item><item>
						                <title>Beban Hanung Bramantyo Menyutradarai Film Ulang Buat Kelas Oscar</title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/beban-hanung-bramantyo-menyutradarai-film-ulang-buat-kelas-oscar</link>
						                <description>Tahun 1997. Film Children of Heaven dirilis dan kita terperangah melihat negara dunia ketiga, Iran, berhasil menembus seleksi ketat nomine Oscar. 

Di tangan sutradara Majid Majidi, Children of Heaven dipujikan karena ceritanya yang membumi, pendekatannya yang realistis dan tentu saja penghayatan akting kedua aktor [cilik] utamanya. 

Maka ketika mendengar MD Pictures berani-beraninya hendak membuat ulang film selevel Children of Heaven, saya mencoba berbaik sangka. Bisa saja Manoj Punjabi ingin kembali membuat film berkualitas dan tak lagi membuat film “sekedar” untuk tembus sejuta penonton. Toh ia sudah punya KKN di Desa Penari yang menjadi film Indonesia pertama dengan perolehan 10 juta penonton. Manoj tak perlu membuktikan apapun terkait dengan kelarisan produknya, maka bisa jadi ia menantang dirinya untuk bisa membuktikan bahwa ia bisa kembali memproduksi film bermutu.

Manoj pun menunjuk Hanung Bramantyo sebagai nakhoda proyek. Skenario pun digarap yang berusaha tetap setia kepada cerita aslinya. Hanung pernah berhasil membuat ulang film sukses Korea, Miracle in Cell No 7, yang menurut saya lebih bagus dari materi aslinya. Pertanyaan sejuta dollarnya adalah mampukah Hanung kembali membuktikan bahwa ia bisa membuat Children of Heaven minimal sebagus aslinya?

Beban berat ada di pundak Hanung. Terlebih skenario yang diberikan padanya nyaris tak memberi perkembangan apapun dari materi asli. Bahkan sejumlah sub-plot tak memberi sumbangsih besar pada plot utama, sekedar hadir untuk memanjang-manjangkan durasi saja. Tapi salah satu pendekatan menarik yang dilakukan Hanung untuk versi Indonesia ini adalah dengan membawanya ke era tahun 1988. Sayangnya memang tak banyak catatan sejarah tahun itu yang muncul di film ini. Ia sekedar latar di awal film dengan pidato Soeharto yang memberi harapan bagi penonton bahwa Children of Heaven versi Indonesia akan menjadi film yang paling tidak menyamai film aslinya. Tapi nyatanya …….

Tapi sebelumnya saya ceritakan kembali inti kisah Children of Heaven yang sebagian besar dari kita sudah hapal karena terlalu sering menontonnya di televisi. Film ini menyandarkan kisahnya pada Ali yang tak sengaja menghilangkan sepatu adiknya, Zahra, yang baru saja dijahit. Dari adegan menjahit sepatu ini kita tahu betapa miskinnya keluarga Ali. Ayahnya hanya kuli kasar di pasar. Ibunya yang masih menyusui adik bayinya tengah sakit-sakitan. Anak sekecil Ali dipaksa berhadapan dengan realita kehidupan. Dan betapa cemerlangnya Majid Majidi menyusun skenarionya karena sedari awal kita tahu bahwa keinginan Ali sepanjang film hanyalah membelikan adiknya sepatu pengganti. Dan jalan satu-satunya bagi Ali untuk bisa mendapatkan keinginannya adalah dengan menjadi juara tiga lomba maraton.

Sayangnya skenario malah terlalu sibuk dengan sub-plot dan malah tak menginformasikan soal lomba lari sejak awal. Sub-plot ayah Ali ditawari menjadi tukang kebun dari seorang kakek kaya jika dicabut dari film pun tak akan mengganggu keseluruhan film, malah justru akan memperlancarnya. Sub-plot rentenir yang menagih utang juga tak banyak memberi kontribusi pada cerita, malah cenderung terasa berpanjang-panjang dan membuat filmnya terasa lebih lama dari seharusnya. Padahal jika mengeksplor soal lomba lari dan rintangan demi rintangan yang mungkin dihadapi Ali sebelum akhirnya bisa ikut perlombaan tersebut justru bisa menjadi bagian paling menarik dari cerita ini.

Tapi Hanung memang sudah bukan level sutradara biasa. Ia bisa jadi paham dengan kelemahan skenario dan memberi porsi bagi energinya untuk mengarahkan dua aktor cilik yang akan menyalakan filmnya, Jared Ali dan Humaira Jahra. Di tangan keduanya kita lupa dengan kelemahan yang muncul di sana-sini pada skenario. Saya memberi catatan khusus pada Jared yang bermain sangat cemerlang sebagai Ali. Saya bisa diyakinkan dengan tampilan hingga gestur bahwa ia benar-benar terlahir di keluarga miskin. Jared bisa meyakinkan saya bahwa ia adalah Ali, anak seorang kuli kasar di pasar Kalisari, Semarang. Di usianya yang baru menginjak 11 tahun, Jared sudah menjelma sebagai aktor hebat yang mampu menubuhkan karakternya dengan luar biasa baik. 

Meski sudah puluhan kali menonton Children of Heaven versi Iran, saya toh masih bisa ikut menangis bersama Ali ketika ia ternyata tak menjadi juara tiga seperti harapannya. Saya bisa merasakan kekecewaannya karena tak bisa membahagiakan adiknya. Saya bisa merasakan airmata yang mengalir deras di pipinya karena ia tak bisa memenuhi janji pada adiknya. Dan itu semua berkat Jared yang membawa beban [hampir] seluruh film bersama Hanung di pundaknya. Saya pun membatin usai menonton film ini seandainya Jared tak masuk sekedar nomine Peran Utama Pria Terbaik di Festival Film Indonesia tahun ini bisa jadi ada sesuatu yang salah dengan festival yang masih jadi barometer bagi penggiat film tanah air. 

Begitupun jika ditanya apakah versi remake Children of Heaven bisa menyamai film pendahulunya, saya mungkin akan menjawab diplomatis. Hanung belum bisa mengulang keberhasilannya di film ulang buat Korea, Miracle in Cell No 7.


CHILDREN OF HEAVEN

Produser: Manoj Punjabi
Sutradara: Hanung Bramantyo
Penulis Skenario: Majid Majidi, Hanan Novianti, Oka Aurora
Pemain: Jared Ali, Humaira Jahra, Andri Mashadi
</description>
					                </item><item>
						                <title>Disclosure, Ladies First dan Dinamika Jender Tradisional </title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/disclosure-ladies-first-dan-dinamika-jender-tradisional-</link>
						                <description>Tahun 1994. Sutradara Barry Levinson mengadaptasi novel Michael Chrichton yang kontroversial dan laris manis menjadi film bioskop berjudul Disclosure. Film yang dibintangi Michael Douglas dan Demi Moore ini menyoroti isi pelecehan seksual di dunia kerja dengan membalikkan dinamika jender tradisional.

Disclosure berkisah tentang Tom Sanders, seorang eksekutif perusahaan teknologi, dituduh melakukan pelecehan seksual oleh mantan kekasihnya sekaligus bosnya yang baru, Meredith Johnson. Padahal faktanya bertolak belakang. Justru Tom adalah korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh bosnya sendiri. 

Bayangkan 32 tahun lalu VISA4D eksplorasi soal pembalikan jender tradisional sudah terjadi dalam cerita-cerita di film Hollywood. Karenanya di masa di mana CEO perempuan menjadi sesuatu yang lumrah hari ini, Ladies First pun terasa ketinggalan jaman dan hanya mengulang-ulang sesuatu yang sudah sering diobrolkan dan tak menginjeksikan sesuatu yang baru di dalam ceritanya.

Ladies First yang tayang di Netflix adalah sebuah komedi ulang buat dari film Prancis rilisan tahun 2018 berjudul I Am Not an Easy Man. Ceritanya berkisar pada sosok seorang CEO bernama Damien Sachs. Damien digambarkan stereotipe sebagai seorang laki-laki penggila kerja, penggila pesta, penggila perempuan dan juga sering menganggap rendah perempuan, bahkan oleh asistennya sendiri yang rajin mencatat kesalahan-kesalahan yang dilakukannya. Damien seperti [masih] berada di ruang dan waktu yang salah di mana kesadaran emansipasi perempuan semakin terasa darurat dan pelecehan seksual tak dianggap sebagai sesuatu yang normal lagi. Hingga sebuah kecelakaan tak disangka menimpa Damien dan selamanya mengubah perspektifnya tentang perempuan.

Damien menabrak tiang besi dan menyebabkannya tersungkur. Ketika terbangun Damien sudah berada di dunia yang jauh berbeda. Kini perempuan memegang kendali. Glenda yang di dunia sebelumnya “hanya” seorang petugas kebersihan kini menjelma sebagai bos besar dari perusahaan tempatnya bekerja. Felicity yang di dunia sebelumnya “hanya” seorang resepsionis kini menjadi CEO menggantikan dirinya. Dan Alex Fox, rekan kerja perempuan, yang di dunia sebelumnya seringkali tak dianggap oleh Damien, kini menjadi pesaing terdekatnya memperebutkan posisi CEO yang ditinggalkan Felicity. 

Memang sangat menggelitik melihat di dunia yang baru itu laki-laki berada di dapur, laki-laki sekedar menjadi penggembira di dunia kerja dan laki-laki menjelma sebagai obyek kepuasan seksual oleh para perempuan yang berkuasa. Namun di dunia yang kita pijaki hari ini, pembalikan peran tersebut sesungguhnya semakin sering terjadi dan dianggap normal. Banyak laki-laki modern memilih menjadi “stay home dad” alias bapak rumah tangga, sejumlah laki-laki membiarkan dirinya menjadi obyek kepuasan seksual oleh perempuan demi bayaran dengan jumlah tertentu. Sayangnya trio penulis skenario Ladies First, Natalie Krinsky, Cinco Paul dan Katie Silberman, tak menyadari segala fakta yang terjadi di depan mata kita itu hari ini. Dibanding menyodorkan perspektif segar yang belum banyak diobrolkan dalam film bertema sejenis, penulis skenario malah fokus mengulang-ulang hal-hal yang sudah banyak termuat di film-film sebelumnya.

Premis menarik yang tak diimbangi keterampilan penulisan skenario cemerlang memang bisa jadi malapetaka. Apalagi sutradara Thea Sharrock juga tak terlihat berusaha menyelamatkan penulisan skenario yang malas ini dengan penyutradaraan yang menarik. Beruntungnya Thea punya barisan pemain kaliber yang masih bermain cemerlang. Meski masih membawa energi Borat-nya, Sacha Baron Cohen bisa tetap tampil charming sekaligus brengsek sebagai Damien. Rosamund Pike juga masih membawa energi Gone Girl-nya dan bisa tampil garang sekaligus rapuh. Di depan kamera, reaksi kimiawi keduanya terasa padu dan menyelamatkan banyak kekurangan dari film ini sehingga masih bisa kita nikmati hingga film selesai.

Konstruksi jender adalah sebuah pembahasan nan seksi hari ini. Kita bisa melihat bagaimana jender banyak berperan dalam segala sendi kehidupan kita. Kita juga melihat bagaimana posisi jender secara perlahan berubah menjadi lebih cair belakangan ini. Banyak hal terjadi depan mata kita secara alamiah dan kita perlahan mengakuinya sebagai sesuatu yang normal. 

Maka film pun perlu berpijak pada apa yang terjadi hari-hari ini. Karena film pun seringkali menjadi pijakan tertentu bagaimana kita melihat tak saja masa lalu namun terutama apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin agar kita bisa lebih memahami secara jernih sebelum membuat keputusan. Mungkin agar kita bisa lebih peka mencermati sebelum melakukan hal-hal yang mendobrak jaman. Bisa juga film menjadi pengingat bahwa apa yang terjadi hari ini sesungguhnya sudah ada penandanya sekian puluh tahun lalu. Seperti halnya novel/film Disclosure yang sudah ada 32 tahun lalu dan membuat kita bisa lebih memahami apa yang terjadi di film Ladies First hari ini. 


LADIES FIRST

Produser: Liza Chasin, Eleonore Dailly, Edouard de Lachomette
Sutradara: Thea Sharrock
Penulis Skenario: Natalie Krinsky, Cinco Paul, Katie Silberman
Pemain: Sacha Baron Cohen, Rosamund Pike, Fiona Shaw
</description>
					                </item><item>
						                <title>Damien McCarthy dan Ciri Khas Teror Psikologisnya</title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/damien-mccarthy-dan-ciri-khas-teror-psikologisnya</link>
						                <description>Tahun 2020. Dunia dikejutkan dengan kemunculan sineas asal Irlandia, Damien McCarthy. Damien datang dengan filmnya, Caveat. Sebuah film menegangkan yang berfokus pada seorang pria yang setuju untuk mengawasi seorang wanita yang mengalami gangguan jiwa di sebuah rumah terpencil di pulau terisolasi. Dengan syarat, ia harus mengenakan sabuk kekang dengan rantai panjang. Film ini dipuji karena klaustrofobia, ketegangan yang konsisten, dan visual yang sangat menakutkan.

Damien menjadi menonjol karena kegemarannya bermain-main dengan unsur psikologis dalam sejumlah karyanya. Dan ia tak sekedar membuatnya sebagai tempelan namun menempatkannya sebagai kendaraan utama bagi karakter-karakternya memasuki dunia kelam nan menakutkan. Damien juga menjadikan unsur psikologis itu untuk menakut-nakuti kita dengan mengundang masa lalu, trauma hingga luka-luka yang menjadi terasa lebih menakutkan karena terasa dekat dengan kita.

Ciri khas Damien dengan teror psikologisnya itu kembali diperlihatkannya di film terbarunya berjudul Hokum. Diambil dari bahasa slang Amerika, hokum bermakna omong kosong, bualan, atau hal yang tidak masuk akal (omong kosong). Kata ini juga sering dipakai untuk menyebut banyolan atau humor murahan. Damien memanfaatkan betul makna ganda dari judul filmnya tersebut untuk menyesatkan penonton di awal film untuk kemudian memborbardirnya dengan adegan-adegan yang justru menjadi antithesis dari makna tersebut.

Dalam Hokum kita berkenalan dengan penulis populer asal Amerika bernama Ohm Bauman. Ia tak ramah, bertingkah kasar dan sama sekali tak peduli siapapun. Dalam kebuntuannya mengolah bab terakhir dari trilogy novelnya yang terkenal, Conquistador, Ohm memutuskan untuk berkunjung ke sebuah pedesaan di Irlandia. Ia menginap di The Billberry Woods Hotel yang merupakan tempat di mana ayah dan ibunya dulu menghabiskan bulan madu. Ohm punya misi lain untuk menebarkan abu ayah dan ibunya di sebuah tempat di mana Ohn yakini sebagai tempat mengesankan bagi kedua orangtuanya. Tapi ada sesuatu nan kelam yang tersimpan jauh di masa lalu Ohm. Sesuatu yang traumatik dan kelak merobek-robek apa yang diyakininya selama ini. Namun sesuatu itu pula yang kelak mengubahnya menjadi seseorang yang lebih ramah dan simpatik.

Hokum berjalan dengan premis biasa yang sudah banyak sekali kita lihat di ribuan judul film horor lainnya. Yang bisa jadi menarik bagi kita adalah ciri khas Damien yang terlihat sangat jelas di film ini. Ia membawa karakter utama yang problematik, tak sekedar tak ramah namun juga punya masalah dengan alkohol. Ia membawa karakter utama untuk kita, para penonton, eksaminasi bersama. Ia membawa karakter utama yang susah bagi kita untuk bersimpati dan perlahan membuat kita tahu bahwa ada sesuatu yang terlalu besar baginya untuk ditaklukkannya. Sesuatu itu adalah masa lalu kelam dan rasanya lebih menakutkan dari sekedar puluhan makhluk gaib yang muncul di film ini.

Masa lalu adalah pintu masuk bagi Damien untuk membuka lembar-lembar rahasia yang tersembunyi di hotel itu. Masa lalu juga menjadi pintu masuk bagi Damien untuk menghempaskan kita mengarungi masa kecil Ohm yang ditekannya serapat mungkin. Dan perlahan kita bisa memahami mengapa Ohm bisa begitu tak ramah, bisa begitu kejam dan tak simpatik. Masa lalu dan luka yang masih menganga itu yang membuatnya menjadi manusia seperti hari ini.

Sayangnya memang teror psikologis ini tak dibungkus oleh skenario cemerlang. Begitu banyak karakter menarik bermunculan di film ini namun tak diolah latar belakangnya secara meyakinkan oleh Damien. Hasilnya kita cenderung tak peduli dengan apa yang terjadi pada mereka. Kita seakan sengaja difokuskan untuk peduli pada Ohm seorang. Padahal Ohm melakukan segala tindakan yang bertentangan dengan prinsipnya justru karena ia perlahan peduli. Skenario juga cenderung menjadi kabur karena Damien mencoba mengolah terlalu banyak sub-plot dalam waktu yang sempit dan ternyata ia belum punya cukup keterampilan untuk bisa melakukannya dengan baik. Hasilnya sub-plot itu hadir tak utuh dan membuatnya mudah untuk terlupakan begitu saja oleh penonton.

Tapi Damien masih cemerlang menyajikan teror psikologis yang menyiksa. Ia sangat sabar merajut adegan demi adegan, memilin cerita demi cerita untuk kemudian diledakkannya di akhir film. Ia cerdik menggunakan berbagai elemen untuk memperlihatkan betapa tersiksanya Ohm dengan masa lalunya dan kita bisa memahaminya dengan baik. Dan bisa jadi kelebihan Damien yang sudah jarang sekali bisa kita saksikan di film horor adalah keunikannya menyajikan adegan-adegan jumpscare yang terasa orisinal dan efektif mengagetkan penonton. Atmosfer musik hingga suara dioptimalkannya dengan baik sehingga mendukung teror psikologis yang memang diniatkannya sejak awal. Tak sekedar mengagetkan karena volume suaranya namun juga karena desain suara dirancang sedemikian rupa agar berpadu menarik dengan gambar-gambar yang dirakitnya. 

Dengan serbuan film horor yang bejibun selama beberapa tahun terakhir, ciri khas Damien bisa jadi akan membuatnya bertahan dan dikenang di genre ini. Selama ia terus melakukan eksplorasi dan memperbaiki keterampilannya menulis skenario maka Damien potensial menjadi sutradara film horor garda depan dalam beberapa tahun mendatang.


HOKUM

Produser: Derek Dauchy, Mairtin de Barra, Julianne Forde, Roy Lee, Steven Schneider, Ruth Treacy
Sutradara: Damien McCarthy
Penulis Skenario: Damien McCarthy
Pemain: Adam Scott, David Wilmot, Michael Patric
</description>
					                </item><item>
						                <title>Hachiko, Gohan dan Kisah Anjing Paling Setia</title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/hachiko-gohan-dan-kisah-anjing-paling-setia</link>
						                <description>Tahun 1935. Anjing dengan ras Akita Inu yang menjelma sebagai anjing paling setia itu akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Dunia pun berduka dan mengenang kisah kesetiaan Hachiko, nama anjing itu, kepada tuannya selama puluhan tahun.

Pada tahun 1920-an, seorang profesor dari Universitas Tokyo bernama Hidesaburo Ueno, mengadopsi Hachiko. Sang profesor punya kegiatan rutin mengajar tiap hari dan membuat Hachiko selalu mengikutinya hingga stasiun Shibuya. Hachiko juga selalu sudah ada di stasiun tersebut ketika sang profesor hendak kembali ke rumah.

Kegiatan rutin itu berlangsung bertahun-tahun dan membuat Hachiko terbiasa. Hingga ketika sang profesor meninggal secara mendadak. Hachiko tentu saja tak mengetahui bahwa tuannya tak akan lagi muncul di stasiun Shibuya. Begitupun Hachiko menungguinya selama bertahun-tahun setelah sang profesor meninggal dunia.

Dan setelah Hachiko muncul Gohan. Anjing ini juga diberi nama ala Jepang namun sesungguhnya ia berasal dari Thailand. Bedanya lagi Hachiko adalah anjing dari kisah nyata sementara Gohan adalah anjing dari kisah fiksi dalam film berjudul sama. Yang menarik adalah Gohan mencoba melakukan eksplorasi melampaui kisah nyata Hachiko. Ditulis oleh tiga penulis skenario sekaligus, Gohan memperlihatkan linimasa film hingga 10 tahun yang melingkari kisah dari empat orang kesepian yang ditemani oleh seekor anjing liar yang menggemaskan.

Semuanya berawal dari seorang pegawai yang dipaksa pensiun bernama Hiro. Seseorang berkebangsaan Jepang dengan etos kerjanya yang luar biasa yang merasa masih bisa bekerja membaktikan diri bagi perusahaan di usianya yang sudah sepuh. Dalam masa-masa paling rentan baginya ia bertemu dengan seekor anjing putih menggemaskan di luar sebuah minimarket. Gohan tak sengaja terbawa oleh Hiro yang masuk ke dalam dus berisi berbotol-botol bir miliknya. Padahal di apartemennya dilarang untuk memelihara anjing. 

Tapi Hiro terlanjur jatuh cinta dengan Gohan. Konon ketika seseorang menamai seekor binatang maka serta merta ikatan batin itu terbentuk. Hiro menamai anjing itu Gohan karena warnanya putih mirip nasi [dalam bahasa Jepang, Gohan berarti nasi]. Hiro pun memutuskan pensiun dan malah menghabiskan masa pensiunnya berbahagia bersama Gohan hingga pandemi menerjang seluruh dunia.

Kita lantas melihat Gohan mengalami episode paling tragis dalam hidupnya ketika ia terjerat oleh seornag oknum yang mengaku penyayang anjing namun sesungguhnya mengeksploitasi anjing-anjing liar untuk mendapatkan donasi dari masyarakat. Episode ini adalah sentilan dari apa yang banyak terjadi akhir-akhir ini, tak hanya di Thailand namun juga di Indonesia. Dari binatang hingga bayi manusia hanya dilihat sebagai properti dan dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Dan kita geram karena di tengah-tengahnya juga ada Gohan yang terperangkap setelah kembali hidup luntang-lantung.

Film Gohan sepertinya memang didesain untuk menghanyutkan perasaan-perasaan kesepian dari manusia, dalam hal ini penonton. Dan kita hanyut melihat betapa anjing ini tak hanya hadir sebagai teman, namun juga hadir sebagai obat yang menyembuhkan jiwa-jiwa yang sepi. Manusia-manusia yang selama ini mungkin tak menjadi pemeran utama dalam banyak cerita namun bagi Gohan, mereka adalah pemeran utama di kisah hidupnya.

Kesetiaan dan ketulusan seekor anjing berhasil dipotret oleh trio sutradara Chayanop Boonprakob, Atta Hemwadee dan Baz Poonpiriya. Sesuai judulnya, kita melihat bagaimana Gohan tak sekedar hadir dalam kehidupan manusia-manusia yang menyayanginya, namun ia juga menemani mereka tak hanya dalam saat-saat terbaik namun juga masa-masa terburuk. Gohan membuat kita percaya bahwa manusia selalu punya sisi-sisi yang disembunyikannya dan bisa terlihat lebih jelas di mata seekor binatang yang hadir tanpa menghakimi dan menemani tanpa berharap balas kasih.

Dan kita ikut hancur melihat bagaimana Gohan terus bertumbuh setelah melewati banyak episode dalam hidupnya. Tak sekedar bertumbuh, Gohan perlama menua. Di depan mata kita melihat kegesitannya berkurang, kita melihat ruang geraknya semakin terbatas namun kita masih bisa melihat nyala kasih di matanya yang seakan tak pernah padam. 

Dari Hachiko hingga Gohan kita belajar sebuah kesetiaan.
Dari Hachiko hingga Gohan kita belajar sebuah ketulusan.
Dari Hachi hingga Gohan kita belajar lebih jauh mengenai arti cinta.
Sebuah konsep yang dipahami manusia secara terbatas namun dipahami binatang seakan tak berbatas.

Dari Hachiko hingga Gohan kita lagi-lagi belajar banyak.


GOHAN

Produser: Vanridee Pongsittisak, Baz Poonpiriya
Sutradara: Chayanop Boonprakob, Atta Hemwadee, Baz Poonpiriya
Penulis Skenario: Chayanop Boonprakob, Sopana Chaowwiwatkul, Atta Hemwadee, Baz Poonpiriya, Thodsapon Thiptinnakorn
Pemain: Kitachima Yasushi, Poe Mamhe Thar, Tu Tontawan Tantivejakul
</description>
					                </item><item>
						                <title>Dua Seniman Film Sehebat Yudi Datau dan Cesa David Tetap Perlu Skenario Jempolan</title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/dua-seniman-film-sehebat-yudi-datau-dan-cesa-david-tetap-perlu-skenario-jempolan</link>
						                <description>Tahun 2017. Pertama kalinya saya menikmati bagaimana dua dewa dalam perfilman Indonesia berkolaborasi dalam sebuah proyek film. Penata kamera Yudi Datau dan penyunting gambar Cesa David Lukmansyah berkolaborasi dalam film Ayat-Ayat Cinta 2.

Sayangnya saya tak begitu menikmati hasil kerja keduanya karena merasa skenario tak memberi ruang lebih lebar bagi keduanya untuk berkreasi maksimal. Hal serupa juga terjadi ketika menyaksikan Twivortiare [2019] yang juga terasa hambar karena skenario yang tak bekerja maksimal.

Perasaan berbeda saya dapatkan ketika menyimak Semua Akan Baik-Baik Saja yang sedang tayang di bioskop. Dari adegan pembuka yang diambil selama beberapa menit tanpa putus memperlihatkan kecanggihan Yudi Datau sebagai salah satu sinematografer jempolan tanah air. Pun ketika menyaksikan bagaimana dinamisnya gambar demi gambar dijahit oleh Cesa yang membuat cerita terasa mengalir dengan baik.

Jika di dua filmnya sebelumnya, Ayat-Ayat Cinta 2 dan Twivortiare terasa hambar, maka di Semua Akan Baik-Baik Saja justru terasa terlalu penuh. Terlalu banyak karakter yang muncul dan sebenarnya jika pun dihilangkan tak akan berpengaruh pada cerita. Terlalu banyak plot tumpang tindih yang membuat kita merasa sesak selama 113 menit durasinya. Skenario yang diolah keroyokan oleh Oka Aurora, Eurico K Pratama dan Baim Wong terasa terlalu ambisius sehingga meminggirkan beberapa fokus cerita yang seharusnya perlu diberi ruang lebih luas.

Padahal Semua Akan Baik-Baik Saja punya premis menarik. Fokus cerita pada Langit yang luntang-lantung gak karuan dan tinggal melajang di sebuah rumah susun dengan segala keriuhannya. Suatu hari kakak perempuannya berkunjung dan memberi tahu kita bahwa bakal terjadi sesuatu yang memporakporandakan hidupnya. Dan benar saja, kakak perempuannya itu, Mentari, meninggal mendadak karena serangan jantung. Dan meninggalkan 3 orang anak, salah satunya si bungsu dengan down syndrome. 

Dari sini skenario mulai kebingungan membagi fokus. Mau fokus pada kehidupan Langit atau kehidupan ketiga keponakannya, belum lagi dengan ibunya dan saudara/saudari Langit yang lain, Bintang dan Banyu. Tak sengaja saya mengingat bagaimana Teguh Karya dengan mahakarya klasiknya, Ibunda, yang tahu diri tak menghamburkan banyak karakter dan banyak masalah dalam satu linimasa. Ibunda hanya fokus pada dua masalah: bagaimana ibunya menghadapi masalah dari dua anaknya, Fitri dan Fikar. Dan jelas Baim Wong selaku sutradara Semua Akan Baik-Baik Saja bukan Teguh Karya yang punya kapasitas besar menghadapi drama keluarga yang rumit sekaligus memberi ruang bagi karakter-karakternya untuk bertumbuh di depan kita dan melihat bagaimana mereka memecahkan masalahnya. Dan terutama bagaimana sang ibu bisa menghadapi semuanya dengan kebijaksanaan yang memang diharapkan dari seorang ibu pada umumnya.

Saya betul-betul bisa menikmati Semua Akan Baik-Baik Saja dan mengacuhkan skenarionya hanya karena bisa menikmati kinerja cemerlang Yudi Datau dan menyaksikannya bagaimana mentransformasi tulisan menjadi bahasa visual yang menarik. Ketika tensi drama meningkat, kita melihat gambar terus bergerak dan ketika tensi drama cenderung minim, gambar pun bergerak pelan bahkan statis. Sinematografer jempolan memang tak sekedar merekam gambar namun memberi nyawa pada gambar dan menyalakan performa para aktor yang menghidupkan karakter dalam bingkai.

Saya juga betul-betul bisa menikmati Semua Akan Baik-Baik Saja dan mengacuhkan skenarionya hanya karena bisa menikmati penyuntingan brilian dari Cesa David yang terasa dinamis membuat kita bisa masuk ke dalam ruang-ruang keluarga dengan tanpa hambatan. visa4d Sebagai penyunting gambar jempolan, Cesa tahu kapan harus memberi fokus pada karakter, kapan harus memberi fokus pada atmosfer dan kapan harus memberi panggung pada interaksi sesama karakter. Gambar demi gambar digunting lalu dirajut kembali oleh Cesa dengan penuh cinta dan kita bisa merasakan cinta itu dalam keluarga Langit. Menjadi penyunting gambar tak sekedar memotong gambar namun seringkali membuat struktur cerita yang baru yang memberi nyawa baru pada film. 

Saya membayangkan bagaimana sekiranya dua dewa perfilman Indonesia ini kelak bertemu dengan skenario jempolan yang memberi mereka kebebasan kreatif yang lebih lebar. Di Semua Akan Baik-baik Saja yang dibatasi oleh skenario yang kurang bekerja maksimal pun keduanya bisa bekerja optimal. Maka saya menunggu kelak keduanya bisa bekerjasama kembali dan kita sebagai yang lebih yunior bisa belajar dari bagaimana keduanya menggunakan craftmanship mereka menghasilkan karya film yang bisa menjadi mahakarya.


SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA

Produser : Muhamad Ibrahim
Sutradara : Baim Wong 
Penulis Skenario : Oka Aurora, Eurico K Pratama, Baim Wong
Pemain : Reza Rahadian, Christine Hakim, Raihaanun
</description>
					                </item><item>
						                <title>Mengungkap Misteri Pulau Terkutuk</title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/mengungkap-misteri-pulau-terkutuk</link>
						                <description>Tahun 2024. Pertama kalinya saya mendengar nama pulau Satonda di Dompu, Nusa Tenggara Barat. Pertama kalinya juga saya mendengar mitos bahwa pulau tersebut dikutuk.

Warga lokal meyakini pulau tersebut dikutuk sehingga tak seorang pun diperbolehkan untuk tinggal di sana. Menariknya setelah bertahun-tahun pulau tersebut justru menarik warga asing untuk melakukan riset dan wisatawan lokal/asing untuk sekedar bertamasya di sana. Apa yang sesungguhnya berubah setelah sekian lama mitos pulau terkutuk itu bertahan?

Saya mengingat pulau Satonda setelah menyaksikan serial komedi-horor Widow’s Bay di Apple TV. Dalam tiga episode awalnya yang sudah tayang aroma itu tercium jelas. Kita bisa melihat bagaimana kreatornya melontarkan sindiran berupa humor sarkastik tentang kepercayaan yang dipelihara turun temurun. Kita bisa memahami mengapa kepercayaan turun temurun itu bisa bertahan begitu lama di tengah masyarakat yang enggan berubah. Dan kita bisa percaya bahwa pada suatu hari akan ada seseorang yang datang dan menentang kepercayaan lama itu. Seseorang dari luar, katakanlah Massachusetts. Seseorang seperti Tom Loftis.

Mungkin Widow’s Bay memang butuh seseorang berpikiran maju seperti Tom yang akhirnya terpilih sebagai walikota. Tentu saja Tom ingin agar pariwisata pulau tempatnya bermukim itu akhirnya bisa terdongkrak. Tapi Tom berurusan dengan hantu-hantu dari masa lalu yang begitu dipercayai warga lokal seakan nyata. Tom juga berurusan dengan banyak mitos meresahkan yang bisa membuat wisatawan enggan menginjakkan kakinya di sana. Padahal Tom sudah mengundang jurnalis New York Times yang kelak menjuluki pulau itu semacam Martha’s Vineyard.

Serial ini berlatar masa sekarang. Dan kita tahu masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan jika warga kita masih tinggal di masa lalu dan enggan berada di masa sekarang. Kita tahu betapa susahnya menggeser mitos sebagai perwujudan kepercayaan lama untuk duduk berdampingan dengan apa yang kita percayai hari ini.

Pendekatan komedi-horor adalah strategi jitu untuk bisa melihat beberapa hal meski tak seserius biasanya namun bisa jadi terlihat lebih jernih. Kita bisa menertawakan apa yang sesungguhnya terjadi di balik peristiwa-peristiwa mistis yang susah dianalisa secara logika. Dan Widow’s Bay menjadi pintu masuk bagi kita untuk memahami asal muasal kutukan dan kepercayaan lama masih berkelindan erat dengan kita hari ini.
 

pelor88

 

kota88

 

 

sapporo88

 

 

lembah88

 

 

pas88

 

 

target88

 

 

target88

 

 

https://ideunikcorp.com

 

 

angkot88

 

 
</description>
					                </item><item>
						                <title>Terikat Borgol Dalam 6 Episode Bersama Tahar Rahim</title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/terikat-borgol-dalam-6-episode-bersama-tahar-rahim</link>
						                <description>Tahun 2021. Untuk pertama kalinya dalam sejarah 3 aktor Muslim sekaligus beroleh nomine Golden Globe. Salah satu dari mereka aktor Prancis berdarah Aljazair, Tahar Rahim.

Tahar tampil sangat memikat dalam The Mauritanian yang menampilkan dirinya sebagai seorang tersangka tak bersalah yang dijebloskan selama bertahun-tahun di salah satu penjara paling berbahaya di dunia, Guantanamo. Tahar juga bisa meyakinkan kita bahwa ia sama cemerlangnya dengan sesama aktor di film tersebut, Jodie Foster, yang telah beroleh piala Oscar.

Nama Tahar mulai mengorbit sejak sukses besar film A Prophet yang menggebrak di Cannes. Dan kita tahu tinggal menunggu waktu Tahar akan tampil di film/serial produksi Hollywood.

Sebagai aktor profesional Tahar justru memberi kesempatan pada aktris yang relatif belum dikenal, Izuka Hoyle, sebagai karakter utama di serial berjudul Prisoner. Dalam serial yang tayang di HBO Max itu Izuka menjadi Amber Todd, petugas penjara yang diberi tanggung jawab mengantar penjahat ulung, Tibor Stone, menjadi saksi dari gembong kriminal yang pernah menjadi bosnya.

Amber baru saja selesai cuti melahirkan dan di hari pertamanya kembali bekerja ia langsung diberi tugas sepenting itu. Dalam 4 hari ke depan Tibor akan menjadi saksi kunci dan karenanya keamanannya menjadi sangat penting. Dan seperti yang kita duga sejak awal proses ini tak akan mudah. Kita akhirnya melihat Amber dan Tibor harus diborgol dalam 6 episode dan mencoba saling melindungi satu sama lain. Tibor adalah prajurit terlatih yang terbiasa menyerang sekaligus melindungi dirinya. Sementara Amber yang naif nyaris tak punya pengalaman membela diri. Di atas kertas kita membayangkan seasyik apa keduanya berlari berkejaran dari desingan peluru, di tangan Izuka dan Tahar, kita ikut berdebar melihat keduanya berusaha mati-matian. Kita juga gemas melihat betapa tak bisa diprediksinya Tibor dan betapa cerobohnya Amber. Reaksi kimiawi Izuka dan Tahar membuat kita terus berdebat mengikuti kisahnya hingga akhir.

Izuka menerima tanggung jawab dengan baik sebagai Amber. Kenaifannya terasa tulus, ketidaktahuannya terasa logis, kekurangsigapannya terasa alamiah. Izuka tahu kapan ia harus jadi Amber yang seorang Ibu baru dan merindukan putrinya, Mia. Izuka juga cermat kapan ia harus jadi Amber yang petugas penjara dengan tanggung jawabnya yang besar. Dan yang paling penting Izuka tahu kapan harus jadi Amber yang manusia biasa, bukan perempuan jago kelahi dan memainkan senjata.

Bisa jadi Izuka bermain cemerlang juga karena pengaruh Tahar. Di Prisoner Tahar bisa berubah-ubah dengan cepat. Ia bisa tampak sangat mengenaskan sebagai penderita diabetes namun ia juga bisa tampak sangat kejam atas nama prinsip yang diyakininya. Dunia normal Amber dan dunia kriminal Tibor berkelindan dan kita melihat dua dunia itu seringkali mengganggu satu sama lain. Tapi mungkin itu pula yang membuat Prisoner, meski terkesan receh, namun sangat menyenangkan untuk ditonton.

Metafora borgol menjadi sebuah ciri khas penting dari serial ini bahwa kita sesama manusia mungkin memang perlu dipaksa dalam situasi terdesak dan terikat satu sama lain untuk belajar saling memahami. Tapi manusia adalah makhluk dengan kompleksitasnya yang luar biasa. Dan kita tahu kompleksitas itu yang membuat kita memahami menjadi manusia dan berusaha menjadi manusiawi. Izuka dan Tahar tahu betul itu dan selama terikat borgol kita melihat dua manusia yang sedang berusaha menjadi individu yang lebih baik dari sebelumnya.

pelor88

kota88

 

sapporo88

 

lembah88

 

pas88

 

target88

 

target88

 

https://ideunikcorp.com

 

angkot88


wg4d

wg4d

wg4d

 

 
</description>
					                </item><item>
						                <title>Joan Rivers, Deborah Vance dan Para Perintis Komedian Perempuan</title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/joan-rivers-deborah-vance-dan-para-perintis-komedian-perempuan</link>
						                <description>Tahun 1986. Joan Rivers membuat sejarah dengan menjadi [komedian] perempuan pertama yang membawakan acara bincang-bincang televisi larut malam. Programnya The Late Show with Joan Rivers lantas bertransformasi menjadi The Joan Rivers Show dan mengudara pada 1989-1993.

Joan dikenal luas karena personanya yang blak-blakan, tak takut mengkritik sesama selebritas dan juga politisi dan akhirnya seringkali menjadi kontroversi. Bertahun-tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 2017, majalah Rolling Stone menempatkannya di posisi ke-6 dalam daftar 50 Stand-Up Comedian Terbaik Sepanjang Masa.

Trio kreator Lucia Aniello, Paul W Downs dan Jen Statsky meluncurkan serial Hacks di tahun 2021. Sebuah serial yang menempatkan komedian perempuan sebagai karakter utama bernama Deborah Vance dengan sekelumit kisah yang bisa dibilang mirip dengan yang dialami Joan. Tapi Hacks tentu saja bukan biopik karena Deborah adalah tokoh fiksi dan nantinya memilih fokus ceritanya pada hubungan rumit antara Deborah dengan penulisnya, Ava Daniels.

Di musim pertamanya yang gemilang, Hacks mendemonstrasikan bagaimana seharusnya serial komedi bekerja dengan baik. Ia tak perlu komedian untuk memainkannya dan tak perlu memaksakan diri untuk terlihat lucu dari seharusnya. Hacks bekerja dengan baik pada skenario yang dengan brilian memotret dinamika dua perempuan yang saling membutuhkan namun berupaya keras untuk mencari titik temu agar hubungan mereka bisa bertahan lama. Deborah membutuhkan Ava agar ia bisa mencari suaranya di tengah dunia modern yang cepat sekali berubah. Dan Ava memerlukan Deborah untuk menegaskan dirinya adalah penulis komedi yang baik yang tahan banting.

Dan dalam proses mencari titik temu inilah kelucuan-kelucuan dimunculkan secara alamiah. Kita tak lagi sekedar melihat dua perempuan yang saling membutuhkan, kita juga melihat dua perempuan yang mencoba saling membuka diri. Tak sekedar lucu Hacks juga sesekali mengharukan melihat hubungan Deborah dan Ava melintasi kosa profesionalisme. Dari pertemanan telah menjadi keluarga. Dan dua teman perempuan dari dunia komedi ini kini bekerja melawan dunia.

Dalam musim kelima yang sudah mengudara sebanyak 7 episode di HBO Max kita melihat bagaimana Deborah berjuang melawan kesewenang-wenangan bos jaringan televisi, Bob Lipka. Setelah membuat ulah demi membela Ava di acara bincang-bincangnya sendiri, Deborah harus menerima pil pahit. Ia harus menghadapi cancel culture, sesuatu yang tak pernah dibayangkannya. Ia di-cancel bukan karena melakukan sesuatu yang buruk atau melawan hukum, ia di-cancel justru karena menyuarakan kebenaran.

Maka dengan dirinya tengah menghadapi situasi hukum yang ketat membuat Deborah mencari jalan untuk memenangkan kebebasannya kembali. Dan ia ingin melakukan dalam sebuah pertunjukan tunggal di Madison Square Garden yang monumental. Dan Ava memutuskan tetap terus berada di sampingnya.

Yang menarik dari Hacks adalah ia mencoba membongkar apa yang selama ini sudah menjadi rahasia umum. Bahwa ada perlakuan berbeda antara komedian laki-laki dan perempuan. Ada lebih banyak hambatan yang harus dihadapi komedian perempuan agar bisa sejajar. Dan terutama tentang bagaimana komedian perempuan bisa mendapatkan lebih banyak respek dari masyarakat.

Joan Rivers sudah menjadi perintis dan membuka pintu itu untuk lebih banyak lagi komedian perempuan memasukinya tanpa perlu lagi mengetuknya. Dalam dunia fiksi, Deborah berjuang susah payah sekuat tenaga untuk mendapatkan kebebasannya kembali. Ada harga mahal yang harus dibayar oleh para perintis dan pewaris perlu menghargainya dan melakukan hal-hal yang lebih berdampak pada dunia komedi.
 
</description>
					                </item><item>
						                <title>Mitos Bugis Tentang Saudara Buaya dan Cinta Protektif Ibu [Buaya] Terhadap Anaknya</title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/mitos-bugis-tentang-saudara-buaya-dan-cinta-protektif-ibu-buaya-terhadap-anaknya</link>
						                <description>Tahun 2020. Sebuah desa di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, membuat geger. Dari desa itu diberitakan sepasang suami istri memelihara buaya yang dianggapnya sebagai kembaran anaknya. Buaya tersebut diperlakukan secara istimewa layaknya anak kandung mereka sendiri.
Sewaktu menghabiskan masa kecil di Polewali dari tahun 1980-1990, cerita-cerita sejenis terlalu sering saya dengar. Maka kelak ketika cerita yang sama kembali meledak puluhan tahun silam, saya berpikir mungkin alam ingin mengingatkan sesuatu.

Ada sebuah kepercayaan dalam masyarakat Bugis bahwa semua manusia memiliki saudara dalam perwujudan buaya. Mereka akan hadir dalam perantaraan mimpi hingga mengunjungi langsung manusia di darat.

Seorang peneliti dari Tokyo Metropolitan University bernama Makoto Ito menemukan beberapa bukti yang mengonfirmasi mitos tersebut sudah ada secara turun temurun. Peneliti lainnya, Stephen C Druce, juga menuliskannya dalam buku West of the Lakes: A History of the Ajattapareng Kingdoms of South Sulawesi 1200-1600 (KITLV Press, 2009). “Puang ri Sompé punya seorang anak bernama Tomaruli. Tomaruli memiliki sebelas anak. Salah satunya bernama ratu ri Parung, yang masuk ke dalam air dan menjadi buaya. (...) Paleteang memiliki seorang anak bernama La Cellaq Mata. La Cellaq Mata menikahi Wé Lampé Weluaq. Mereka punya empat anak: salah satunya masuk ke dalam air dan menjadi buaya."

Karena memiliki kedekatan dengan mitos tersebut bisa jadi membuat saya menyaksikan film Crocodile Tears dengan perspektif yang sedikit berbeda. Saya tak sekedar melihat cinta yang protektif dari seorang Ibu kepada anaknya namun juga melihat bagaimana mitos itu berusaha bertahan dalam dunia modern, sebuah dunia yang mencoba menjunjung tinggi logika. Maka melihat bagaimana sutradara Tumpal Tampubolon mencampuradukkan mitos itu dengan kondisi hari ini sekaligus menjadikan kebiasaan Ibu biaya yang super protektif kepada anaknya sebagai metafora adalah sesuatu yang bisa jadi tak akan bisa kita lihat lagi dalam perfilman Indonesia 10 tahun mendatang.

Dari luar Crocodile Tears tampak bercerita hal-hal biasa. Ibu dan anak hidup terisolir, hanya ditemani puluhan buaya, dengan rutinitas yang begitu-begitu saja. Mama menjalaninya dengan hati riang meski sesekali ia meraung-raung di malam gelap. Yang Mama tak bisa antisipasi adalah putranya semata wayang, Johan [dengan penampilan cemerlang dari Yusuf Mahardika], bersentuhan dengan dunia luar. Ia bersentuhan dengan perempuan lain setelah puluhan tahun hingga dewasa tidur dalam pelukan ibunya. Bahkan ketika tidur pun, Mama melakukan yang biasa dilakukan Ibu buaya. Menaruh anaknya dalam rahangnya. Sementara Mama mendekap erat Johan seakan ia ingin terus melindungi Johan selamanya.

Dan akhirnya Johan memang bersentuhan dengan perempuan lain. Bahkan tidur dengannya. Kita melihat laki-laki naif mencintai perempuan dengan begitu murni. Bahkan ketika ia kelak tahu anak yang dikandung Arumi, perempuan itu, bukanlah anaknya. Tapi ini bukan sekedar cinta biasa. Sudah lama Johan sesak napas dalam cinta protektif ibunya. Dan hanya Arumi yang bisa membebaskannya.

Sebagai sutradara yang juga menulis sendiri skenarionya, kita bisa melihat bagaimana Tumpal menghabiskan banyak waktu agar metafora yang hadir dalam filmnya kelak tak terasa sekedar sebagai sensasi, agar cerita yang dihadirkannya bisa dimaknai lebih dalam. Kita melihat cinta dalam banyak lapisannya yang semakin membuat kita memahami kompleksitas manusia. Kita melihat relasi kuasa hadir dalam ruang paling intim yang pelan-pelan menyesakkan dada. Dan kita melihat bagaimana manusia-manusia dalam film itu tetap manusiawi, tak berubah menjadi hewani, dengan segala khawatir, luka dan trauma yang mereka simpan dalam ruang gelap selama bertahun-tahun.

Johan adalah manusia yang berada di persimpangan. Ia manusia yang hidup di dunia modern. Namun ia harus menoleransi kepercayaan ibunya soal mitos ayahnya adalah seekor buaya putih. Mungkin kita adalah Johan yang juga masih berusaha mencari tahu, masih berusaha mengerti, masih berupaya menyadari dirinya adalah identitas merdeka yang suatu saat memerlukan kebebasannya.
</description>
					                </item></channel>
  	</rss>